Tuesday, May 1, 2007

Mendengar dan Melihat

"We are listening and watching. Not merely hearing and seeing."

Ada banyak orang yang mendengar tetapi tidak sungguh-sungguh mendengar. Ada banyak orang juga yang melihat, tetapi tidak sunguh-sungguh melihat. Seringkali kesalahpahaman terjadi karena situasi ini, di mana kita tidak sungguh-sungguh "melihat" dan tidak sungguh-sungguh "mendengar". Banyak orang yang merasa terabaikan pula karena merasa tidak "didengar" dan "dilihat".

Seperti halnya kita berlatih berjalan sewaktu kita balita, "Mendengar" atau "Melihat" pun membutuhkan latihan yang terus menerus karena mendengar dan melihat yang sesungguhnya membutuhkan keterampilan khusus, membutuhkan "jiwa" di dalamnya.

Kita pun harus mulai mendengarkan dan melihat dengan "jiwa" kita. Bukan hanya dengan saraf mata dan telinga semata.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Adakalanya Kita Membutuhkan Diam

Di kala anda tak mempunyai kata-kata untuk diucapkan, diamlah. Lebih mudah mengetahui kapan anda harus berbicara dan mengumbar perkataan. Namun,teramat sulit menjaga kapan sebuah jeda harus didiamkan. Ingatlah, bibir bukan hanya untuk dibuka lebar-lebar.

Lebih sering kita perlu untuk mengatupkannya rapat-rapat.
Berbicara seringkali bagaikan menghamburkan paku pada jalan yang akan dilalui. Kita tak tahu pada paku yang manakah kita akan jatuh tersungkur.

Berbicara memerlukan sebuah pengendalian diri agar kata-kata berbicara sebagaimana mestinya. Sedangkan diam adalah pengendalian itu sendiri yang harus diketukkan untuk menjaga sebuah harmoni. Itulah mengapa orang bijak menyimpan butir-butir emas kebajikan mereka dalam diam.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)